Skip to main content

Command Centre Kota Bandung Jadi Rujukan Malaysia, Pejabat Sabah Pelajari Transformasi Digital Pemerintahan

Sumber: Command Centre Kota Bandung Jadi Rujukan Malaysia, Pejabat Sabah Pelajari Transformasi Digital Pemerintahan


BANDUNG, INDONESIA, 30 Oktober 2026 – Command Centre Kota Bandung menjadi salah satu tujuan studi banding atau benchmarking bagi 15 pejabat Pemerintah Negara Bagian Sabah, Malaysia, dalam mempelajari penerapan transformasi digital di sektor pemerintahan. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melihat langsung pemanfaatan teknologi dan data dalam mendukung tata kelola kota serta peningkatan kualitas pelayanan publik.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengembangan kompetensi internasional bertajuk Future Public Service Lab: Reimagining Digital Government Through Innovation, Technology & Global Practice yang berlangsung di Bandung pada 27 Oktober hingga 1 November 2026. 

Panel Pakar MTalent Training & Consultancy Services Sdn. Bhd., Dato’ Dr. Adnan Hussein, mengatakan kunjungan ke Bandung menjadi kesempatan bagi delegasi Sabah untuk membandingkan perkembangan transformasi digital di Indonesia dengan upaya yang telah dilakukan di Malaysia. 

“Kita cuba lihat sejauh mana kemajuan Bandung berbanding dengan usaha kita di Malaysia. Dan kalau tadi di Command Center juga kita tengok, kita lihat, kita belajar macam mana Command Center Bandung. Fokusnya ialah kepada transformasi digital,” ujar Dato’ Dr. Adnan Hussein di Bandung, Kamis 29 Oktober 2026. 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ini tidak sekadar menjadi agenda pertukaran pengetahuan, tetapi juga sarana bagi peserta untuk mempelajari praktik yang telah diterapkan pemerintah daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam mengembangkan pelayanan publik berbasis digital di Negara Bagian Sabah.


Kunjungan ke Command Centre Kota Bandung menjadi salah satu agenda penting dalam program tersebut. Para peserta memperoleh gambaran mengenai pemanfaatan teknologi informasi, pengelolaan data, dan sistem pemantauan untuk mendukung perencanaan pembangunan, koordinasi pemerintahan, serta pengambilan keputusan. 

Melalui pendekatan ini, delegasi Sabah dapat mengamati bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk membantu pemerintah merespons kebutuhan perkotaan secara lebih terintegrasi. Pengalaman lapangan tersebut melengkapi materi konseptual yang sebelumnya diberikan oleh para narasumber dari Indonesia dan Malaysia. 

Program yang diselenggarakan MTalent Training & Consultancy Services Sdn. Bhd. itu memang dirancang untuk memperkuat kapasitas aparatur pemerintah dalam menghadapi perubahan menuju tata kelola digital. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai strategi transformasi, tetapi juga diajak mengidentifikasi praktik yang berpotensi diadaptasi sesuai kebutuhan institusi masing-masing. 

Selain Command Centre Kota Bandung, rangkaian pembelajaran menghadirkan perspektif dari berbagai sektor. Umar Said Habibullah dari Institut Teknologi Bandung (ITB), misalnya, memaparkan pengalaman Indonesia dalam transformasi digital sektor publik. 

Sementara itu, Einst Rengga Damahatko dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta berbagi pengalaman mengenai transformasi digital di Jakarta. Adapun Ir. Adi Junjunan Mustafa, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, menyampaikan materi terkait strategi pembangunan perkotaan. 

Darto, AP, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Bandung, turut memberikan perspektif mengenai pendekatan strategis dalam mendorong pembangunan kota pintar atau smart city.

Keterlibatan narasumber lintas sektor tersebut memberikan gambaran bahwa transformasi digital pemerintahan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi. Perubahan juga membutuhkan strategi organisasi, kompetensi sumber daya manusia, serta kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses kerja dan pelayanan kepada masyarakat.


Kunjungan pejabat Malaysia ke Bandung juga membuka peluang bagi pengembangan sektor pariwisata berbasis bisnis dan pengetahuan. Ketua DPD ASITA Jawa Barat, Daniel G. Nugraha, menilai Bandung memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui perpaduan sumber daya manusia digital, industri kreatif, serta kegiatan pertemuan dan pelatihan berskala internasional. 

Menurut Daniel, keunggulan Bandung tidak hanya terletak pada destinasi wisata kuliner dan belanja. Kota ini juga memiliki talenta digital yang dapat menjadi daya tarik bagi lembaga, perusahaan, maupun institusi pemerintahan dari luar negeri yang ingin mempelajari perkembangan teknologi dan industri kreatif. 

“Kita sebagai tour operator, saya sebagai tour operator atau di asosiasi harus membaca kelebihan potensi kota kita punya apa sih. Di sini kita punya digital talent, tadi disampaikan digital talent di Bandung ini bagus-bagus, keren-keren katanya. Masih muda-muda dan banyak idenya out of the box,” kata Daniel.

Ia menilai potensi tersebut dapat dikembangkan untuk memperkuat posisi Bandung sebagai kota meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), terutama melalui kegiatan pelatihan, lokakarya, seminar, dan kunjungan studi banding dengan jumlah peserta yang relatif terbatas. 

Menurut Daniel, Bandung mempunyai peluang untuk menawarkan program pembelajaran tematik dengan menghadirkan narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, serta pelaku industri digital. Model kegiatan seperti ini dinilai sesuai dengan kebutuhan lembaga atau organisasi yang ingin memperoleh pengetahuan praktis secara langsung dari para praktisi. 

"Bandung bukan cuma kota kuliner buat makan-makan, buat belanja-belanja. Tapi ada yang lainnya, benchmarking," ujarnya. 

Daniel menjelaskan, industri kreatif dan digital di Bandung mencakup beragam bidang, mulai dari pemasaran digital, animasi, film, produksi konten, pengembangan situs web, hingga teknologi dan pengelolaan data. Ekosistem tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan paket wisata edukasi sekaligus memperluas pasar kegiatan MICE di Jawa Barat. 

Ia juga menyoroti kemudahan komunikasi sebagai salah satu nilai tambah Bandung dalam menyelenggarakan program pembelajaran bagi peserta dari Malaysia. Menurutnya, interaksi antara peserta dan narasumber dapat berlangsung efektif tanpa harus selalu bergantung pada penggunaan bahasa Inggris. 

Kondisi tersebut membuka peluang bagi penyelenggara perjalanan dan kegiatan atau event organizer untuk merancang lebih banyak program berbasis pengetahuan, termasuk pelatihan transformasi digital, pengembangan industri kreatif, dan studi banding tata kelola pemerintahan.


Daniel mengungkapkan, program pembelajaran yang melibatkan peserta dari Malaysia bukan kali pertama dilakukan. Ia menyebut institusi yang terlibat telah menjalankan kegiatan serupa hingga penyelenggaraan ke-11, dengan fokus pada transformasi birokrasi dari sistem manual menuju sistem digital. 

Ia juga mencontohkan pengalaman Kota Petaling Jaya, Malaysia, yang menurut penuturannya telah mengadopsi teknologi digital dari Bandung. 

"Contohnya tadi Kota Petaling Jaya saja mengimpor digital Thailand dan perangkatnya, software-nya, semua dari Kota Bandung untuk dipasangkan di Petaling Jaya, Malaysia," kata Daniel. Contoh tersebut, menurut Daniel, memperlihatkan peluang pertukaran pengetahuan dan teknologi antara Bandung dan institusi di Malaysia. Namun, keberhasilan penerapan teknologi di daerah lain tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, kesiapan sumber daya manusia, serta karakteristik sistem pemerintahan setempat. 

Potensi ini sekaligus memperluas makna benchmarking. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana bagi peserta untuk mempelajari pengalaman daerah lain, tetapi juga membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang pengembangan kompetensi, teknologi, dan industri kreatif.

Bagi Bandung, peluang tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi memperkuat sektor MICE berbasis pengetahuan. Dengan menghadirkan praktisi dan institusi lokal sebagai sumber pembelajaran, kegiatan kunjungan kerja berpotensi memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperluas pengenalan terhadap kapasitas sumber daya manusia di kota ini.


Daniel mengungkapkan, program pembelajaran yang melibatkan peserta dari Malaysia bukan kali pertama dilakukan. Ia menyebut institusi yang terlibat telah menjalankan kegiatan serupa hingga penyelenggaraan ke-11, dengan fokus pada transformasi birokrasi dari sistem manual menuju sistem digital. 

Ia juga mencontohkan pengalaman Kota Petaling Jaya, Malaysia, yang menurut penuturannya telah mengadopsi teknologi digital dari Bandung. 

"Contohnya tadi Kota Petaling Jaya saja mengimpor digital Thailand dan perangkatnya, software-nya, semua dari Kota Bandung untuk dipasangkan di Petaling Jaya, Malaysia," kata Daniel. Contoh tersebut, menurut Daniel, memperlihatkan peluang pertukaran pengetahuan dan teknologi antara Bandung dan institusi di Malaysia. Namun, keberhasilan penerapan teknologi di daerah lain tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, kesiapan sumber daya manusia, serta karakteristik sistem pemerintahan setempat. 

Potensi ini sekaligus memperluas makna benchmarking. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana bagi peserta untuk mempelajari pengalaman daerah lain, tetapi juga membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang pengembangan kompetensi, teknologi, dan industri kreatif.

Bagi Bandung, peluang tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi memperkuat sektor MICE berbasis pengetahuan. Dengan menghadirkan praktisi dan institusi lokal sebagai sumber pembelajaran, kegiatan kunjungan kerja berpotensi memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperluas pengenalan terhadap kapasitas sumber daya manusia di kota ini.

Dari Pembelajaran ke Implementasi Kebijakan

Program Future Public Service Lab menggabungkan tiga pendekatan pembelajaran, yakni Concepts and Strategies, Best Practices, serta Reflection and Action. Ketiganya dirancang untuk menghubungkan pemahaman konseptual dengan pengamatan praktik di lapangan dan penyusunan tindak lanjut. 

Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk mengidentifikasi inovasi yang relevan, mengevaluasi kesesuaiannya dengan kondisi institusi masing-masing, serta menyusun rekomendasi yang dapat diterapkan setelah program berakhir. 

Rangkaian kegiatan juga mencakup sesi refleksi dan presentasi kelompok. Dalam sesi ini, para peserta merangkum hasil pembelajaran dan menyampaikan gagasan perbaikan yang berpotensi meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta kualitas pelayanan publik di tingkat pemerintahan negara bagian. 

Bagi Pemerintah Sabah, pengalaman yang diperoleh di Bandung dapat menjadi salah satu referensi dalam merumuskan langkah pengembangan layanan digital. Sementara bagi Kota Bandung, kunjungan tersebut memperlihatkan peluang untuk memperkuat peran sebagai tempat pembelajaran tata kelola perkotaan dan transformasi digital bagi peserta internasional. 

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi, dan pelaku industri berpotensi memperluas manfaat kunjungan semacam ini. Tidak hanya mendorong pertukaran pengalaman antarnegara, kegiatan tersebut juga dapat memperkuat posisi Bandung sebagai kota yang menawarkan pembelajaran, inovasi, dan pengembangan kompetensi di bidang pemerintahan digital.

Hubungi kami untuk maklumat lanjut tentang program, modul dan sistem yang MTalent tawarkan.